Powered By Blogger

Jumat, 18 Maret 2011

BATAS KEPAKAN

        Batas kepakan
                                                Ruang inspirasi,25 November 2006

        “Jendela yang sejak tadi melongo membuka diri,memberi keberanian untuk menitihkan pikiranku , menyalin kekecewaan meskipun menggores satu sisi hatimu…. “

Manisku…..Lia
       Sajak kacau ini kunyatakan saat pagi memeluk bumi . Cakrawala menguapkan tetes – tetes embun  yang berada di sekitar jangkauan mataku . Cakrawala tak bisa mengusik keberadaanku  di sisi jendela ini karena ia mengerti aku ingin menyampaikan kepadamu semacam “unjuk rasa cinta” yang mengupas dan menguak sedikit demi sedikit luka karena keangkuhan cinta itu sendiri .  Aku akan menguak dan mengupas memori masa silam yang membuat diriku semakin kompleks .
Sebelum mulai menguakkan pilu ini , aku ingin kau tetap bertahan di sana , melaksanakan segala sesuatu yang kau rencanakan seperti kehendakmu , melaksanakan semua kebiasaan tanpa ada sesuatupun yang kau lupakan . Apakah kau masih di sana Lia ? Aku tau dengan pasti kau masih di sana . Aku tau kau masih seperti yang dulu , tak ada satupun gunung mungil yang mengusik keayuan wajahmu . Rambutmu masih dipolesi gatsbi wax di depannya agar bisa tertidur indah . Postur tubuhmu masih seperti dahulu , langsing seperti model – model yang berjalan anggun di atas catwalk . Atau mungkin kau sudah berubah Lia ? Aku tak tau ! aku hanya bisa membayangkan dari kejauhan ini keadaanmu masih seperti dahulu  , saat kau masih menjadi Liaku. Atau jangan – jangan kekasihmu menuntutmu menjadi sepeti maunya . Kau mau itu Lia ? Kalau aku tentu sudah kau tahu , seperti dahulu sedikit mengalami perubahan ala kadarnya . Yang berubah tentu sudah kau tau , aku bukan kekasihmu lagi . Namun hati ini terdapat satu file yang menyimpan semua rasa yang kau bagikan baik suka maupun duka .

·         Kupasan permulaan , dua burung gereja memadu kasih di bawah atap gereja tua
Aku tepati janji untuk menemuimu di sebuah gereja tua .Aku bukan datang sendiri ditemani bayang , aku datang bersama dua sanakku yang sudah kau kenal . Kami tak menunggu  dalam durasi waktu yang cukup lama , kau akhirnya turun dari kereta kencana yang membawamu  . Kalau tak salah , kala itu kau mengenakan baju kuning , pas sekali dengan warna kulit kuning cerahmu . Aku cukup bahkan sangat terkesan dengan penampilanmu sore itu . kecantikan menyembul dari keorisinilanmu , aku menyukai itu . Kita berempat duduk bersama di atas sebuah bangku reyot yang pasti akan patah bila ditambah beban seorang lagi. Kita semua tertawa . kau tak sadar bahwa aku sedikit meredam tawaku untuk menikmati cerahnya tawa dan senyumanmu . Kau tau Lia… Kau semakin manis bila melempar seulas senyum . Akhirnya ruang dan waktu membuka peluang , tersisa dua burung gereja  di atas bangku reyot , bercanda dan sadar akan hadirnya sebuah rasa yang menimbulkan tanda tanya di mana – mana . Aku sedikit nekat memegang tanganmu , kau tak menolak , kau malah tersenyum lembut menusuk naluri lelakiku . Aku sedikit membuat prolog yang kelihatan sangat konyol untuk mencairkan suasana cinta yang belum tiba waktunya sudah menunjukan ciri – cirri hendak menetas . Sadarkah kau saat itu Lia ? Aku sementara mengumpulkan keberanianku untuk mengungkapkan rasa yang meninju-ninju hatiku . Aku akhirnya berani membuang rasa itu , kuluapkan semua rasa yang mengganggu setiap malamku setelah setelah kita bertemu lagi sebagai sahabat lama . Aku sedikit pesimis , kau menundukkan kepala setelah mendengarkan perasaan hatiku , hatiku gemetar , pasti perasaanku ini tak dirasakan dewi yang mendengarkan perasaan hatiku . Keheningan aku dan kau . “ Aku juga “ kalimat yang sudah kutunggu – tunggu mengalir dari mulutmu memecah semua sepi yang mengunci kita . Kita jadinya bisa mulai saling mengerti mulai mematuk biji – bijian hidup ini , saling menyempurnakan .



Burung gereja yang ditunggangi jiwa seorang jelita akhirnya pamit sementara waktu untuk memenuhi tuntutan . kau pergi dari sisiku setelah kau menjadi milikku . Ku masih saja mematuk biji – bijian di dalam lingkaran kasih yang mulai kita rajut , kau bukan hilang untuk selamanya . Kau akhirnya mulai menikmati latihan karate mu sore itu , kau lincah dalam menyerang dan menangkis pukulan demi pukulan . Satu yang masih kuingat saat ini , kau semakin lincah ketika keempat mata kita bercumbu , kau layaknya burung gereja betina yang bergembira bersama sang jantan . Kau ingat peristiwa itu Lia ? Kuharap kau mengenangnya , itu sungguh – sungguh sangat indah dan menawan peristiwa itu . Aku menikmati tontonan itu , tontonan tingkahmu yang semakin saja lincah . Bila mengenang peristiwa itu seorang diri boleh dikata aku seperti orang gila , tersenyum dan cekikan sendiri .
Senja akhirnya datang merayu cakrawala indah tuk berpulang , bumi mulai dinaungi gelap . Taukah kau Lia ? Itu masa injuri timeku , aku harus segara pulang tanpa ada dirimu tuk mengucapkan kata perpisahan . Kau masih asyik berlatih karate . Aku akhirnya hanya memohon angin senja tuk menyampaikan salam perpisahanku padamu . Apakah ia menyampaikan padamu Lia ?
Malam itu juga aku harus kembali ke tempatku mengasah benak . Aku pergi tanpa kau di sisi . Hanya sebuah cinta yang kubawa untuk menguatkan rasa cintaku . Kau tak mengantarku di dermaga itu . Aku juga sedikit menyesal , mengapa tak kusempatkan waktu untuk berpamit darimu , sekedar “ say good bye “ . Aku pulang Lia  .

·         Kupasan kedua , sayap burung gereja jantan patah karena dusta
Aku pulang ke tempatku mengasah benak dengan perasaan bangga sebagai seorang lelaki normal yang membutuhkan cinta dari seorang dewi senja . Setelah peristiwa  di bawah atap gereja tua itu , aku semakin termotifasi untuk menjalani serangkaian hidup mudaku . Kau Lia , ya memang kaulah yang menjadi motivatorku , bayangan wajahmu selalu mengulurkan tangan bila aku terantuk jatuh . Sungguh memang kaulah orangnya Lia , memang kau .
Kala itu sore , sama seperti aku menantikan kehadiranmu yang belum kunjung selesai menghabiskan latihan karate mu . Aku baru saja selesai berolahraga , bau keringat yang membungkus tubuhku , mengharuskan aku untuk segera mandi . Aku mandi sampai sebersih mungkin tanpa mau meninggalkan segumpal dakipun di tubuhku . Sehabis mandi , kukenakan pakaian lalu pergi ke kelas .Dalam tempo beberapa saat aku sudah tenggelam di dalam rumus – rumus yang biasa kunikmati sebagai makanan harianku . Aku kaget ketika disodorkan sepucuk surat oleh salah seorang teman baikku . Aku tak menyangka kau membalas suratku secepat itu . Seperti kebiasaan bila ku menerima surat darimu , aku segera beranjak ke sisi toilet yang dianggap orang sebagai tempat yang tidak sedap dipandang mata . Namun aku menyukai keindahan dari sebuah ketidaksedapan , kesunyian yang kugemari ada di tempat itu . Kusobek amplop suratmu dengan perasaan bahagia mendalam , aku menikmati kata demi kata yang kau bubuhkan . Satu keanehan yang mencuat dari suratmu . Kau menyebut nama Andre dan disebutkan olehmu bahwa ia adalah kekasihmu . Dinding – dinding dan tiang penyangga hatiku akhirnya roboh . Aku merasa dikhianati olehmu . Dulu kau pernah berkata bahwa kau akan menjaga dan memelihara cinta ini dengan sifat kewanitaanmu . Tapi itu dusta! Hanya bualan – bualan yang keluar dari bibir tipismu ! Ku hempaskan aku tuk menangis meratapi keganasan cinta karena dusta seorang dewi senja yang amat kukasihi . Aku akhirnya terpuruk menikmati sedih . Jujur aku tak bisa mengusir begitu saja perasaan sedihku , kalaupun ia pergi , beberapa saat kemudian aku telah kembali bersedih . Bayanganmu selalu hadir kapan dan di manapun aku berada . Mungkin ini yang disebut banyak orang sebagai cinta sejati , aku tak tau . Lia aku menyadari bahwa sesungguhnya kau memiliki daya magis yang tak dimiliki wanita – wanita lain menurut perspektif manusia patah sayap ini . Apakah itu benar? Mungkin hal itu merupakan rahasia wanita .


Lia….. taukah kau bahwa semenjak liontin kasih kita retak , hidup ini seakan tak memiliki sebuah sandaran yang pasti . Bila hati sedang diselimuti duka tak ada lagi dewi penyelamat yang akan mengulurka tangan bagiku . Hidup terasa hampa bila terkenang janji yang kau ungkapkan di bawah atap gereja tua itu . Kau membuat aku semakin menyusut termasuk hati dan asa ini ikut – ikutan menyusut . Hati ini sungguh mengalami komplikasi yang amat sangat parah , pedih……perih….hancur semua cita – cita .

Lia yang kupuja dan akan selalu kupuja………
Aku tak mau dan tak ada niat sedikitpun untuk bertanya , siapakah Andre itu ? aku tak mau tau identitasnya secara lengkap . Kalaupun aku tau mungkin saja dapat menambah perih hati ini . Lebih baik ku tau namanya Andre , orang yang mencuri hatimu dari hatiku . Tapi semenjak aku dan kau bukan kekasih lagi , aku merasa tak ada nilai di depan wanita . Diri merasa hilang rasa percaya diri bila berda di depan wanita . Kaummu sontak menjadi fobia bagiku . Aku merasa sangat kecil bahkan amat sangat kecil dan tak ada arti .
Burung gereja jantan yang dulu perkasa akhirnya hanya bisa merangkak – rangkak di tanah lantaran sayap kanannya patah . Ia selalu berkicau memanggil burung gereja betina . Namun penantiannya sia – sia belaka , sang burung gereja betina telah memetik biji – bijian lain di dalam lingkaran kasih lain . Darah yang keluar dari sayapnya mengalir begitu saja tanpa ada pertolongan dari burung gereja betina . Ia tak mampu untuk megepakan sayap . Hanya mampu merangkak dan merangkak . Banyak yang tak mengetahui lanjutan nasib sang burung gereja jantan . Mereka hanya mengetahui bahwa hidupnya telah hancur tanpa kasih sang burung gereja betina .

·         Kupasan ketiga , burung gereja jantan kembali belajar terbang
Tak kusadari hari berlalu begitu cepat dan membawa semuanya ikut berubah . Akupun ikut mengalami perubahan bersama waktu . Meskipun berubah , hati tak dapat berubah sepenuhnya . Masih terselip bayang dan tingkahmu di sarapan pagiku dan di tidur malamku . Kau terselip di satu sisi ruang rahasia hatiku yang sulit dicari kuncinya .
Lia mantan kekasihku…….
Pasti sekarang engkau telah berbahagia bersama Andre , orang yang kau pilih untuk menemani hati dan dirimu . Aku sendiri mulai sadar bahwa tak selamanya cinta harus saling memiliki . Aku mulai paham bahwa aku bukanlah manusia yang pantas bagimu yang selalu diliputi rindu . Aku memang bukanlah pilihan hatimu . Satu pintaku Lia….semoga kau bahagia bersamanya . Bila engkau bahagia akupun ikut bahagia . Jalani saja apa yang telah terjadi tanpa ada rasa sedih yang mengganjal . Aku akan selalu berdoa bagi kebahagianmu , semoga selalu abadi bahagiamu bersamanya .
Lia…..hampir saja aku melupakan sesuatu . Aku ingin mengisahkan sedikit kisah yang kualami beberapa saat yang lalu . Ada baiknya bila kukisahkan dari awal sehingga kau dapat memahami dengan baik kisahku ini . Langsung saja kubercerita .
Beberapa minggu yang lalu aku bertemu dengan seorang wanita di suatu kota yang tak penting untuk untuk kau ketahui . Kalau dicermati lebih lanjut ia sungguh mirip denganmu Lia . Baik wajahnya sama ayu sepertimu dan juga suaranya sama sama garing separti suaramu . Awalnya kuanggap biasa saja petemuan kami di bawah naungan pohon jambu mente itu . tetapi sesudah itu , seperti bensin yang menyiram api cintaku yang nyalanya kecil , menjadi lebih besar , sampai – sampai hampir membunuhku . Bayangmu kala itu kembali rutin membayangi setiap langkah yang kuambil . Aku merasa kau adalah dia dan dia adalah kau dan tak heran jika aku berkomunikasi dengannya seperti aku berkomunikasi denganmu tanpa ada perasaan malu . Kami seperti dua manusia yang sudah lama berkenalan .




Sampai sutu hari ia menjanjikan suatu hidup bahagia untukku , bukan saat itu , tapi saat nanti apabila ia merasa pikirannya betul – betul matang . Ia meminta aku untuk menungu dengan penuh kesabaran . Siang dan malam kulewati dengan bertanya – tanya dan berangan – angan sendiri tanpa teman . Aku senantiasa beragan bahwa buah cinta itu akan kupetik lagi dan aku akan kembali berbahagia sepertimu Lia , yang berbahagia bersama pilihanmu . Aku merasa akan kembali memilikimu meskipun hanya lewat orang yang mirip denganmu . Aku terus menunggu jawabannya tak kenal kata lelah . Suatu hari kuterima kabar bahwa ia telah bersanding hidup bersama lelaki pilihannya , sedangkan aku ditelantarkan untuk terus – menerus menunggu jawaban sampai ajal menjemput . Ia tak memilih aku untuk menjadi teman hidupnya Lia….dia memilih orang lain yang lebih pantas dariku . Entah hati ini harus kugambarkan bagaimana ? Mungkin tak bisa dibahasakan lewat kata sekalipun . Hatiku hancur berkeping – keping tanpa ada penawarnya . Aku kembali terpuruk menikmati sedih . Aku kembali menjadi yang tak berarti . Ia tak merasakan apa yang kurasakan pada saat itu . Hatiku sekali lagi diporak – porandakan karena cinta , dusta makhluk yang paling kuluhurkan .
Burung gereja jantan menyadari dengan sangat bahwa hidupnya akan menjadi lebih indah jikalau ia bisa kembali mengepakan sayap . Ia membutuhkan seorang teman yang dapat mengajari dan menuntunnya untuk kembali mengepakan sayap . Seekor burung gereja betina mendengar kicauan bernada pertolongan dari sang burung gereja jantan . Burung gereja betina itupun menaruh belas kasihan padanya . Maka mulailah mereka bersama – sama berlatih mengepakan sayap . Selama beberapa hari yang telah lewat sang burung jantan cukup sukses dalam latihannya , ia mulai dapat lagi mengepakan sayap . Itu terjadi karena ia dibimbing oleh sang burung gereja betina . Sutu hari ketika mereka sedang berlatih terbang bersama – sama , sang burung gereja betina melihat pejantan lain yang lebih kokoh dari burung gereja yang sedang bersamanya itu . serta merta ia melepaskan sang burung gereja malang itu dan menghampiri dahan yang ditenggeri sang pejantan kokoh . Mereka sempat bercanda sebentar , setelah itu mereka terbang bersama entah ke mana . Naas menimpa sang burung gereja malang , ketika ia tak dibimbing , ia kembali terjerembab di sekitar bebatuan . Kali ini kedua sayapnya tak tertolong , patah kedua – duanya .


                                                                                                            

                                                                                    Orang yang selalu menyayangimu



                                                                                                                                                       Tacchella

4 komentar:

  1. kisah yang sgt menyentuh,pahit manis jadi satu.
    tapi waktu terus berlalu,dan kita tak boleh terpaku, kawan..
    OK?
    semoga kau tidak disakiti lagi di kehidupan mendatang.

    BalasHapus
  2. life is never flat...life must going on

    BalasHapus